Sejarah Hidup

 METAMORFOSA

Karya : Angga Prasetia Mulia / XII IPA

SMA VIRGO FIDELIS BAWEN


Namaku Angga, aku lahir tanggal 25 Maret 2002 dari keluarga yang bisa di bilang sederhana. Kulitku sawo matang, dengan tinggi kira-kira 170 cm, aku mempunyai alis yang cukup tebal dan teman-teman biasa menyebutnya seperti ulat hitam yang menempel di wajahku.  Sejak kecil aku sudah dilatih oleh orang tuaku untuk hidup mandiri. Setiap hari, sebelum matahari terbit aku dibangunkan oleh bapakku untuk pergi ke sungai mencuci baju. Tubuh ini berat rasanya untuk bangun, tetapi mau bagaimana lagi melihat bapak ke sungai sendiri rasanya tidak tega. Walaupun di sungai aku hanya main-main saja tetapi cukuplah untuk mengisi sepinya pagi itu. 

Tetapi bisa di bilang aku lebih dekat dengan ibuku dari pada bapakku. Dari kecil ditimang-timang dari yang tidak bisa berjalan sampai aku bisa berjalan sendiri. Sampai sekolah TK pun diantar jemput oleh ibuku. Pernah suatu hari ibuku berinisiatif untuk berjualan bubur. Kami sekeluarga pun sibuk mempersiapkan bahan dan alatnya.  Bapakku sibuk mempersiapkan alat alatnya, dan ibuku pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan yang dibutuhkan. Aku memilih untuk ikut ke pasar, sembari jalan-jalan pikirku. Waktu itu keluarga kami masih belum punya sepeda motor sendiri, kemana-mana pun harus memakai angkutan umum yang berdesak desakan, panas apalagi kalau jalanan macet. Sesampainya di pasar ibuku langsung saja memilih bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat bubur tersebut. Mondar-mandir keliling pasar dari pagi sampai matahari berada di atas ubun-ubun. Barang belanjaannya juga cukup banyak, tidak mungkin juga untuk selalu di bawa kemana-mana. Akhirnya aku memilih untuk diam dan menjaga barang belanjaan di salah satu tempat yang ada di pasar, sedangkan ibuku melanjutkan belanja. Aku menunggu sambil minum es teh dan cemilan yang tadi di beli. 

Detik demi detik aku menunggu ibuku, tidak ada kepastian yang pasti kapan ibuku akan kembali. Aku merasa gelisah karena ibuku tidak datang-datang. Aku mengira ibuku lupa denganku dan duluan pulang. Aku pun menangis, dari suara tangisan yang pelan berubah menjadi tangisan yang suaranya keras. Orang-orang berdatangan mendekatiku. Mereka bertanya-tanya mengapa aku menangis, sampai-sampai ada sosok orang tua yang menawariku untuk diantar pulang. Sampai-sampai aku disiarkan di seluruh pasar kalau ada anak yang hilang pengawasan dari orang tuanya. Tetapi aku pun hanya diam karena kondisi hati sedang gelisah dan tidak tau alamat rumahku secara lengkap karena aku masih kecil. Dan akhirnya mereka menenangkan aku sampai suara tangisan tidak lagi keluar dari mulutku. Aku pun melihat dari lorong pasar, ada seorang ibu yang membawa belanjaan banyak. Itu ternyata ibuku, Ia berjalan dengan cepat menghampiriku dan akhirnya memelukku. Lega rasanya saat itu setelah apa yang aku tunggu kembali lagi. 

Beberapa bulan kemudian, ekonomi keluarga mulai mengalami kesusahan. Bapakku bekerja sebagai buruh pasir, pendapatannya juga tidak menentu. Kedua orang tuaku harus memutar otak untuk menghidupi seluruh anak-anaknya termasuk aku. Hingga akhirnya ibuku diberi tawaran oleh pihak gereja tempat ibadah kami sekeluarga untuk bekerja menjadi asisten rumah tangganya. Bekerjanya saya kira di dekat-dekat sekitar rumah, ternyata di luar negeri yaitu di Malaysia. Kami sekeluarga tidak menyetujui ibu untuk pergi ke Malaysia. Tetapi dengan kondisi seperti ini ibuku berfikir lagi “kalau tidak berangkat anak-anakku makan apa.” Dia akhirnya berangkat diam-diam kira-kira jam 04.00 pagi. 

Aku hanya bisa pasrah dengan keadaan saat itu, yang biasanya hari hariku ditemani oleh ibuku. Sekarang telah sirna dan menjadi angan-angan saja karena dia sudah berada jauh di sana. Walaupun kami bisa telepon satu sama lain, tetapi rasanya pasti berbeda. Hari terus berlanjut, untuk menghilangkan rasa rinduku kepada ibu. Sehari-hari aku hanya pergi bermain, entah itu bermain layang-layang, bermain bola, kelereng, pergi ke sawah menjari belut, sampai mencuri kelapa di halaman rumah orang pun aku juga pernah. Semenjak ibuku pergi untuk bekerja, hidupku menjadi tidak beraturan. Menjadi lebih nakal, tidak teratur, melakukan apa pun dengan seenaknya tanpa memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. 

Dan lebih parahnya, aku jadi sering melamun di kelas dan fokus belajar jadi berkurang sangat drastis. Nilaiku banyak yang merah, dan aku pun cuek dengan hal seperti itu. Aku saat itu sedang berada di titik kehilangan arah dan pola pikirku sendiri. Seperti burung yang terbang tanpa tujuan. 

Sesampainya di kenaikan kelas 3 ke kelas 4, yang mengambil raportku adalah bapak. Dan di situ aku dinyatakan tidak naik ke kelas 4. Seketika aku menangis dengan tak henti-hentinya. Guru wali kelasku hanya memberikan motivasi-motivasi untuk memberi dukungan agar lebih semangat lagi belajar dan memperbaiki diri. Orang-orang di sekitarku juga hanya memberi semangat untuk lebih baik lagi kedepannya. Tidak ada yang memarahiku tentang hal ini, bapakku mungkin memaklumi. Dengan adanya kejadian ini, ibu saya juga terkejut terheran-heran “ngopo kok iso ngene ki?” kata ibuku di dalam telepon. Kenapa kok bisa begini, kata ibuku kalau di terjemahkan ke bahasa Indonesia. Ya kejadian semua ini bukan kehendak atau gara-gara siapa. Ini juga kesalahanku sendiri. 

Dengan kejadian ini ibuku pun pulang dan kembali lagi ke rumah. Dan berhenti bekerja di Malaysia. Kembalinya ibuku, membuat semangat belajar dan berbenah diri semakin tinggi. Hari demi hari kulewati, perubahan dari seseorang yang nakal dan cukup mengecewakan menjadi lebih baik itu cukup sulit jika tidak ada niatan yang kuat di dalam diri. Ibuku selalu memberi  memotivasi agar berubah menjadi yang lebih baik. 

Akhirnya buah dari usaha yang aku lakukan berbuah manis. Aku menjadi rangking satu di kelas saat itu dengan jumlah siswa 28 orang. Saat itu aku sangan senang dan semangat dalam diriku semakin kuat lagi. Prestasi itu sangat berarti, karena rangking tersebut aku mendapatkan beasiswa setiap tahunnya. Itu sangat membantu perekonomian keluargaku juga. Di kelas 6 SD pun aku mendapat nilai UN (Ujian Nasional) terbaik dengan total nilai 26,3. Aku mendapat pujian dari mana-mana, tetapi aku harus selalu rendah hati dan tidak boleh sombong. 

Dengan modal nilai tersebut aku mendaftar ke SMP Negri 1 Jambu yang terletak cukup jauh dari rumah. Yang biasanya aku jalan kaki ke SD dan sekarang harus naik angkot berangkat dan pulangnya. Ya benar saja, bertambahnya tingkatan sekolah kita juga harus bertambah wawasan yang luas juga, jangan terpaku dalam kenyamanan dan harus mencoba hal yang baru.

Aku memiliki jiwa yang senang dengan petualangan dan olahraga. Sejak masuk SMP aku sangat simpati dan senang dengan ekstrakulikuler yang ada di situ. Hampir semua yang berbau dengan olahraga aku ikuti, seperti sepakbola, basket, voli, futsal, renang. Sampai aku lupa akan potensi yang aku ikuti yang paling menonjol di bidang olahraga apa. Akhirnya aku mulai mengurangi kegiatan-kegiatan dan memilih satu olahraga yang cukup menonjol. Dan saat itu aku memilih basket. Saat kelas 8 ada POPDA (Pekan Olahraga Pelajar Daerah) aku di pilih untuk mengikutinya. Sebelum itu di seleksi siapa siapa yang cocok dan yang terbaik di antara terbaik di antara teman-teman. Seleksinya cukup berat, karena di situ kita sangat di uji dengan kemampuan yang kita miliki di bidang basket. Setelah seleksi ternyata aku terpilih untuk menjadi tim inti di perlombaan tersebut. Setiap hari kita satu tim berlatih untuk mematangkan potensi kita mamasing-masing

Terik matahari yang menyengat di sekujur badan pun kami hiraukan. Kami di dampingi oleh sosok pelatih yang tegas, berwibawa, dan keren. Pelatih tersebut ternyata anak dari salah satu guru PKN kami. Dia bernama Ryan dan biasa kami panggil Mas Ryan. Dia adalah pemain terbaik salah satu di klub basket di Indonesia, bahkan dia pernah juga bermain di Filipina untuk mewakili tim Indonesia. Kami sangat bangga dengan itu, dengan motivasi-motivasi yang di berikan. Kami menjadi semakin bersemangat latihan. Tiba saatnya kami bertanding, lokasi pertandingan ada di Gor Wujil Pandanaran. Pertandingan pertama kami di pertemukan dengan SMP 2 Salatiga. Sebelum pertandingan kami pun sempat grogi, karena ini adalah pertandingan besar pertama kami. 

Pelatih kami Mas Ryan pun memberi motivasi lagi dan pengarahan agar grogi kami bisa terkontrol dengan baik. Dan akhirnya pertandingan di menangan oleh kami, dengan skor yang mempunyai selisih yang cukup sedikit. Pertandingan ke 2 dan ke 3 pun di lanjut hari selanjutnya setelah pertandingan ke 1 tersebut. Tetapi pertandingan 3 kami mengalami kekalahan dengan SMP PL Ambarawa. Dan kami harus memperebutkan juara ke 3 dengan SMP 1 Sumurup. Dengan keinginan dan kegigihan kami untuk juara, kami bertanding dengan sekuat tenaga dan berusaha semaksimal mungkin. Hasil akhirnya pun tidak mengecewakan, kami berhasil memenangkan pertandingan tersebut dengan memperoleh juara 3. Saat itu kami sangat senang sekali, mendapatkan medali dan pulang membawa nama baik sekolah. Medali kami kalungkan sampai rumah, karena saking senangnya kami semua. 

Sesudah itu kami naik ke kelas 9 SMP, pelajaran mulai padat, les tambahan, jam pulang sekolah pun di tambah. Waktu kami untuk bermain basket pun berkurang. Skill bermain kami pun semakin lama makin hilang sedikit demi sedikit. Dan tidaklah mengapa, itu semua demi kebaikan kita masing-masing. Sebelum Ujian Nasional kami di tuntut untuk mengikuti Ujian Praktik terlebih dahulu. 

Waktu Ujian Praktik tersebut aku pernah mengalami kesulitan pada mata pelajaran bahasa inggris. Saat itu kami disuruh bercerita tentang sejarah masa lampau dengan mengunakan bahasa inggris. Sedangkan dari dulu aku sangat tidak bisa berbahasa inggris, dan benar saja saat Ujian Praktik bahasa inggris tersebut di mulai, aku belum bisa menghafal dan memahami kata kata yang akan dibawakan. Karena persiapanku belum cukup matang dan juga karena kendala aku sangat susah untuk berbicara bahasa inggris. 

Saat aku di panggil untuk maju, aku dengan perasaan ragu-ragu langsung memberi salam dengan nada yang pelan. Dengan suara pelan-pelan aku memulai berbicara bahasa inggris, kesalahan demi kesalahan aku lakukan. Sehingga aku di perintah untuk kembali menghafal lagi. Setelah teman-teman sudah selesai. Dan tinggal aku seorang di dalam ruangan tersebut bersama dua orang guru penguji. Dan tetap sama saja, aku masih belum bisa. Pikiranku sangat kacau saat itu, jantung berdebar-debar. Kemudian aku di beri waktu untuk keesokan harinya untuk maju lagi. Semalam suntuk aku menghafal cerita sejarah berbahasa inggris tersebut. Dengan niat dan tekad yang bulat ternyata aku bisa juga. Apapun yang kita lakukan dengan niat yang kuat jika ujian tersebut berat akan terasa sangat mudah. 

Ujian Nasional pun terlaksanakan, dan kami tinggal menunggu hasil yang terbaiknya. Tiba saatnya untuk pengumuman kelulusan dan nilai tersebut. Aku berangkat dari rumah, sudah berharap mendapatkan nilai yang terbaik untukku. Sembari menunggu pengumuman aku dan teman-teman saling bercanda riang tetapi dengan hati yang bisa di bilang cukup resah karena menunggu hasil tersebut. Satu persatu nama di panggil untuk maju ke depan, rasa resah dalam diriku semakin memuncak. “Angga Prasetia Mulia” kata wali kelasku. Aku bergegas untuk maju kedepan dan mengambil hasil ujian tersebut. 

Tanpa saya duga ternyata hasil yang saya terima tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Total nilai yang aku dapat hanya 28,3. Saat itu seketika aku meneteskan air mata, dengan hati yang cukup sedih aku mencoba tetap tegar. Teman-teman juga saling memberi semangat satu sama lain. Sesampainya di rumah aku sangat bingung, dengan nilai seperti itu aku akan melanjutkan ke SMA mana? Pertama kali aku mencoba untuk mendaftar di SMA 1 Ambarawa, dengan jurusan masuk ke IPS karena total nilai yang aku dapat kurang memenuhi standar kalau masuk di jurusan IPA. Dengan bantuan piagam basket yang aku miliki, piagam itu memberi tambahan nilai sebesar 2,5 saja. Tetapi pikir ku, apa salahnya mencoba dahulu. Antrian pendaftarannya cukup panjang dan banyak, kami semua pendaftar harus baris satu persatu untuk mendapatkan giliran. 

Keesokan harinya aku mengecek web untuk melihat apakah aku lolos atau tidak. Ternyata namaku tidak ada di dalam daftar sekolah dan artinya aku tidak di terima di sekolah tersebut. Aku kembali bingung mau sekolah di mana lagi. Semalaman aku memikirkan hal itu, mondar-mandir ke sana kemari tidak jelas. “Mau sekolah di mana lagi ini, sekolah yang aku inginkan belum dapat menerima” aku bicara di dalam batin. 

Keesokan harinya aku di sarankan untuk mendaftar ke SMA 1 Bergas. Aku pun mencobanya, sebelum berangkat aku mempersiapkan syarat-syarat yang di butuh kan untuk mendaftar. Bersama ibuku aku berangkat ke SMA 1 Bergas. Sesampainya di sana aku di sambut oleh Bapak dan Ibu guru yang ada di sana. Aku di beri pengarahan dalam hal pendaftaran, aku segera menyerahkan syarat-syarat yang sudah kupersiapkan. 

Aku kembali memantau web yang sudah di berikan, untuk mengetahui apakah aku di terima atau tidak. Setelah menunggu dengan waktu yang cukup lama ternyata aku masih saja tidak di terima di sekolah tersebut. Waktu pendaftaran di sekolah-sekolah lain pun sudah terbilang mepet dan aku masih bingung mau mendaftar dimana. Akhirnya aku pun di sarankan oleh tetangga sekitar untuk melanjutkan sekolah di SMA Virgo Fidelis aja. 

Pagi harinya aku datang ke sana dengan perasaan kurang senang, karena tujuan sekolah yang aku inginkan tidak dapat tercapai. Ya mau bagaimana lagi, kalau aku tidak sekolah juga nanti mau jadi apa kedepannya. Awal mula pun aku tidak mempunyai pikiran akan sekolah swasta. Karena sejak SD pun aku terbiasa dengan sekolah yang negeri, dan sekarang harus bersekolah di lingkungan swasta yang suasananya sangat berbeda. 

Sampai di sana setelah menyerahksn berkas-berkas aku langsung saja di beri soal dan di suruh mengerjakan. Pemberian soal tersebut bertujuan untuk mengetahui seberapa kemampuan yang aku miliki. Waktu yang di berikan juga cukup singkat menurutku untuk 4 mata pelajaran sekaligus. Aku mengerjakan dengan apa adanya, sesuai dengan kemampuan yang aku miliki. Setelah mengerjakan soal tersebut langsung saja aku di beri tahu berapa uang yang harus di bayar, termasuk uang gedung, seragam dan keperluan yang dibutuhkan. Awal-awal aku kaget dengan jumlah uang yang harus di bayarkan. Karena aku juga sudah terbiasa bersekolah di negeri, yang apa-apa bisa di bilang gratis. Dan kalaupun membayar hanya sedikit. Tapi ya mau bagaimana lagi, ibuku hanya berkata “tidak apa-apa nak, mungkin ini jalan menuju kesuksesanmu.” 

Setelah ibuku berkata seperti itu, aku hanya bisa termenung, dan berusaha untuk semangat dalam bersekolah. Beberapa hari kemudian aku di minta untuk datang ke sekolah untuk mengikuti MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Aku datang sendirian, tidak ada teman atau pun siapa. Teman SMP pun tidak ada, aku pertama kenalan dengan orang yang ada di sebelahku yaitu bernama Arif. Dia sama dengan aku, berasal dari sekolah negeri dan tidak menyangka akan bersekolah di swasta dan di bawah oleh naungan suster. Dia juga sendirian mendaftar di SMA Virgo tidak ada teman dari SMP atau siapa pun. Awal mula MPLS rasanya canggung karena belum kenal satu sama lain. Dan ada suatu kejadian saat MPLS di tugaskan untuk membuat surat pribadi dan harus di berikan kepada seseorang yang berlawanan jenis. 

Dan aku pun lupa menulis nama dan akan diberikan kepada siapa. Akhirnya aku pun di perintah untuk maju ke depan dan membacakan surat tersebut. Padahal yang aku tulis adalah lirik lagu Virgoun yang berjudul Surat Cinta Untuk Starla. Dan surat tersebut harus di berikan kepada lawan jenis secara langsung di hadapan teman-teman semua. Aku pun memilih seseorang anggota OSIS yang bernama Kak Isa yang bisa di bilang cantik orangnya. Dia pun di panggil dan maju ke depan. Tubuh ini berasa panas, jantung pun berdetak cepat. Dengan rasa sedikit percaya diri, aku pun malah menyanyikan lirik tersebut. Padahal aku di perintah untuk membacanya saja. Semua orang bersorak-sorak entah kenapa, pikirku sih ini gila. Hahaha padahal kak isa sudah mempunyai pacar saat itu. 

Hari demi hari telah berganti, MPLS sudah berakhir. Saatnya sekarang aku untuk menentukan jurusan apa yang tepat untuk aku, dengan metode psikotes kita dapat mengetahui kemampuan kita berada dalam bidang apa. Aku pun memilih jurusan IPA, dan benar saja aku akhirnya masuk ke jurusan yang aku inginkan. Setelah beberapa lama, aku merasa bahwa jurusan IPA sangat sulit, dengan adanya pelajaran fisika, kimia, biologi. 

Tetapi kita harus bertanggung jawab dengan apa yang telah kita pilih, tetap semangat jangan menyerah. Tahun demi tahun aku lewati dengan pengalaman-pengalaman yang cukup menyenangkan. Awal bukanlah akhir dari apa yang kira rasakan. Tergantung dengan keikhlasan dan semangat kita untuk berjuang. 

Kelas 11 aku memutuskan untuk mengikuti kegiatan ekstrakuliler tambahan yaitu pramuka. Aku kan juga sangat suka dengan hal yang baru jadi apa salahnya untuk mencoba. Di dalam pramuka kita di ajarkan untuk mandiri, selalu bekerja sama satu sama lain. Saling berinteraksi satu sama lain, dengan dasar pemikiran pemikiran bersama dan tidak boleh saling egois. Hal yang paling berkesan adalah saat aku kemah di sekolah untuk pelantikan Bantara. Setelah pelantikan itu pun aku menjadi sadar bahwa kita harus sadar akan pentingnya kebersamaan, saling membantu, saling menghargai, melatih keberanian, dan tanggung jawab. Kita di dalam dunia ini tidak bisa hidup individualis tetapi kita saling membutuhkan satu sama lain. 

Kelas 11 juga aku mulailah mengenal apa itu cinta lagi. Aku mungkin bisa dikatakan dekat dengan banyak perempuan. Itu dari sudut pandang orang lain, padahal kenyataannya mereka hanya sebatas teman. Tetapi ada salah satu perempuan yang bisa memikat hati. Akhirnya kita pacaran, aku pun terpaku hanya dengan perempuan tersebut. Dan akhirnya aku lupa kalau aku berbeda dengan Angga yang dahulu. Angga yang dahulu sangat memikirkan teman-temannya, selalu berkumpul bersama teman dan bersenang-senang dengan teman. Tetapi semejak pacaran, aku menjadi snagat berbeda, menjadi lebih sering ke sana kemari dengan pacar sampai lupa dengan siapa yang dahulu menemani saat masih belum punya pacar. Dan akhirnya aku pun putus dengan perempuan tersebut. Dari situ aku sadar bahwa aku hanya membuang-buang waktu yang berharga ini. 

Semenjak kelas 12 aku mulai lah lagi berkumpul-kumpul dengan teman-teman. Bersenang senang kembali, dan betapa pentingnya kebersamaan itu. Tetapi saat ini kita masih berasa di dalam masa pandemi virus corona. Kita di himbau untuk tetap di rumah dan menjaga jarak satu antara yang lain. Mungkin itu peringatan untuk aku, agar lebih mementingkan teman dari pada berpacaran, berpacaran itu boleh tetapi jangan sampai melupakan teman-teman yang ada di sekeliling kita. Yang senantiasa menghibur dalam keadaan susah dan senang. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laporan hasil observasi tanaman lidah buaya